Deklarasi IAGIKMI

DEKLARASI PENDIRIAN ORGANISASI IAGIKMI DALAM MUKERNAS IAKMI XIV DI MANADO

 

Masalah gizi double burden yang terjadi pada anak Indonesia merupakan masalah kesehatan yang harus segera diselesaikan. Solusi yang komprehensif dan berkelanjutan diperlukan untuk mengurangi angka malnutrisi. Dua hal utama mengenai gizi yang juga tercantum dalam Sustainable Development Goals (SDG) meliputi malnutrisi double burden dan perbaikan gizi diharapkan dapat mensukseskan pembangunan kesehatan hingga tahun 2030.

 

Stunting atau pendek adalah salah satu masalah gizi yang secara global telah menjadi perhatian khusus namun prevalensinya tidak kunjung menurun. Sebanyak lebih dari sepertiga (37,2%) atau sekitar 8,9 Juta balita di Indonesia (Riskesdas 2013). Berdasarkan data Riskesdas 2007, 2010 dan 2013 terlihat adanya kecenderungan bertambahnya prevalensi anak balita pendek-kurus (0,4%), anak balita pendek–normal (2,1%) dan normal–gemuk (0,3%) dari tahun 2010. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain, seperti Myanmar 35%, Vietnam 23% dan Thailand 16%. Salah satu penyebab stunting adalah rendahnya asupan gizi dalam jangka waktu yang lama, bahkan mulai dari kehamilan.

 

Masalah gizi menjadi kepedulian semua pihak terutama karena dampaknya tidak hanya terhadap kemampuan bertahan hidup, dan tingkat kesehatan, tetapi juga terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia yang produktif dan berdaya saing tinggi. Prioritas utama ranah gizi kesehatan masyarakat antara lain upaya penyelamatan 1000 HPK, termasuk di dalamnya adalah pencegahan stunting.

 

Stunting dapat dicegah melalui gizi yang baik dimulai pada ibu hamil, masa menyusui secara eksklusif, berlanjut hingga praktik yang baik pada pemberian makanan anak–anak. Pada dasarnya, masalah–masalah gizi tidak dapat dihadapi hanya dengan penanganan masalah gizi secara dietetik maupun pendekatan perorangan, namun pendekatan kesehatan masyarakat lebih diperlukan. Pendekatan kesehatan masyarakat adalah pendekatan yang lebih menekankan aspek preventif dan promotif, melalui pendekatan perilaku dan pendidikan kesehatan, promosi kesehatan, manajemen dan kebijakan kesehatan, epidemiologi, kesehatan lingkungan, sistem informasi dan biostatistik. Solusi masalah gizi harus melibatkan prinsip–prinsip kesehatan masyarakat yaitu preventif dan promotif, berbasis pada masyarakat, dan mengandalkan kerjasama lintas disiplin dan bidang.

 

Peningkatan kapasitas sumberdaya gizi perlu dikembangkan di luar domain individual dan kuratif. Gizi perlu mencakup bidang yang lebih luas dari hanya gizi perorangan yang menangani individu dengan penyakit. Gizi juga harus merupakan bagian dari kesehatan masyarakat, baik secara sistem, maupun dalam aspek kebijakan, program, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Ahli gizi kesehatan masyarakat memposisikan diri sebagai ahli gizi yang lebih memperhatikan aspek struktural dan cultural serta telah diakui keberadaannya di banyak negara maju, diantaranya adalah Amerika Serikat, Australia dan Kanada.

 

Serangkaian diskusi telah diinisiasi sejak tahun 2008, 2011, dan 2016 di Semarang, serta tahun 2017 di Depok, Jakarta, dan Makassar. Dalam rangka memantapkan langkah maka pada tanggal 18 Oktober 2017, bertepatan dengan Mukernas Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) XIV di Manado, telah dilakukan deklarasi atas berdirinya Ikatan Ahli Gizi Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAGIKMI). Secara terbuka IAKMI menyambut hangat deklarasi ini dan disimbolkan dengan penandatanganan naskah deklarasi oleh Ketua Umum IAKMI, Dr. Ridwan Mochtar Thaha, M.Sc dan Ketua Umum IAGIKMI, dr. Martha Irene Kartasurya, MSc, PhD. Dalam deklarasi tersebut, Dr. Ridwan Thaha sempat menyatakan bahwa IAKMI telah lama menantikan hadirnya para Ahli Gizi Kesehatan Masyarakat Indonesia untuk berkontribusi bersama.

 

Organisasi ini berkoalisi dengan IAKMI dan menginduk pada organisasi dunia yaitu World Public Health Nutrition Association.  Pembentukan organisasi ini dimaksudkan agar dapat  menjadi bagian dalam mengawal upaya  pembangunan gizi dan kesehatan bangsa, dan bersinergi dengan profesi lainnya dengan berdasarkan pada landasan yang sama untuk mempercepat gerakan perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat demi perbaikan kualitas bangsa.

IAGIKMI merupakan wadah para ahli gizi kesehatan masyarakat yang saat ini diketuai oleh dr. Martha Irene Kartasurya, MSc, PhD (FKM UNDIP) dengan wakil Ir. Ahmad Syafiq, MSc, PhD (FKM UI). Sebagai Ketua Dewan Pembina, terpilih Prof. DR. dr. Abdul Razak Thaha, MSc, SpGK (FKM UNHAS). Segera, IAGIKMI akan merilis syarat keanggotaan IAGIKMI beserta mekanisme pendaftarannya.